Langsung ke konten utama

Dari Perpecahan Hingga Kerjasama yang Tidak Diridhoi

 

"Saling memusuhi sesamamu tidak membuatmu lebih baik. Bekerjasama dengan mereka yang jelas berbeda keyakinan denganmu tidak membuatmu menang."-Ailsa

Mengingat sejarah hancurnya peradaban Islam di Andalusia—Dinasti Umayyah II—, yakni ketika Andalusia pecah menjadi 33 negara/kerajaan, kerajaan-kerajaan kecil itu bernama Muluk at Thawaif. 33 thaifa independen ini tentu saling berusaha membuat masing masing negara/Dinasti menjadi yang paling berkuasa di atas dinasti lainnya.

Kekuasaan dapat menghilangkan akal dan agama. Mereka saling berperang. Sesama muslim saling berperang. Memiliki keyakinan yang sama dan keyakinan bahwa mereka adalah bersaudara, tapi mereka berperang. Berperang untuk mendapatkan kekuasaan.

Keadaan umat muslim yang berpecah belah pada tahun 1031 M itu—ditambah dengan semangat (Reconquista) yang dimiliki Kerajaan-kerajaan Kristen Eropa—dimanfaatkan oleh Kristen Eropa untuk merebut wilayah umat muslim. Hingga sekitar tahun 1236 M, hanya tersisa satu kerajaan kecil, yakni Kerajaan Granada.

Perselisihan internal umat muslim yang terjadi setelah jatuhnya Dinasti Umayyah II, menjadi bukti nyata bahwa berusaha memenangkan ego sendiri adalah bibit dari sebuah kehancuran.

Selain perselisihan internal umat muslim menjadi salah satu faktor kegagalan. Faktor kedua adalah bekerja samanya muslim dengan pihak yang bukan muslim, dan lagi hanya disebabkan untuk mendapatkan kekuasaan. Ada banyak kejadian kerjasama muslim dan kafir, namun hanya satu bukti sejarah yang akan saya jabarkan di sini.

Masih terkait dengan Andalusia. Ketika semua kerajaan-kerjaan kecil di Andalusia sudah ditaklukkan oleh Kerajaan Kristen Eropa, ternyata masih berdiri kerajaan kecil yang bertahan. Terletak di ujung Selatan tanah Andalusia, yakni Kerajaan Granada.

Pada tahun 1236 M, Pasukan Kerajaan Kristen Castile—salah satu kerajaan besar Kristen Eropa—telah sampai di ujung perbatasan wilayah Granada. Namun, pada saat itu Granada berhasil menghindarkan dirinya dari penaklukkan Kerajaan-kerajaan Kristen Eropa, hal ini terjadi karena Sultan Granada Muhammad I bersedia bersekutu dengan Raja Fernando III dari Castile, untuk merebut kota Cordova dari tangan Bani Hud. Dan juga Sultan Muhammad I ikut membantu Kerajaan Castile untuk merebut Kota Sevilla dari kekuasaan Islam.

Singkat cerita, Setelah jatuhnya Cordova dan Sevilla ke tangan Kerajaan Castile, Kerajaan Castile malah membuat perjanjian dengan Sultan Muhammad I. Perjanjian tersebut berisi kesediaan dan ketundukkan Kerajaan Granada untuk menyerahkan upeti tahunan berupa ribuan koin emas kepada Kerajaan Castile. Jelas di sini perjanjian amat sangat merugikan sebelah pihak. Dan timbal baliknya, Kerajaan Castile akan menjamin independensi Kerajaan Granada dalam urusan dalam negeri mereka dan lepas dari ancaman invasi Castile. Sebenarnya, selain upeti, keadaan geografis Granada juga turut membantu terhindarnya Granada dari invasi pihak-pihak luar.

Namun, selama 250 tahun Granada bertahan, tetap saja merasa terancam karena dikelilingi oleh kerajaan kerajaan Kristen yang sangat tidak bersahabat. Dan pada tahun 1469 M, Raja Ferdinand II dari Aragon menikah dengan Putri Isabella dari Castile, pernikahan ini menyatukan dua kerjaan besar di semenanjung Iberia, dan mereka merajut cita-cita yang sama, yakni menaklukkan Granada. Apa boleh dikata, pada tahun 1482 M terjadilah serangan oleh Kerajaan Aragon dan Castile terhadap Emirat Granada.

Walaupun sudah tidak ada harapan lagi untuk kemenangan, namun semangat juang kaum muslim sangat tinggi. Dan lebih parahnya lagi, di saat genting seperti itu, tepatnya tahun 1483 M, anak dari Sultan Granada Ali Abu Hasan, yakni Muhammad (Boabdil) mengadakan pemberontakan terhadap ayahnya sendiri. Hingga memicu perang sipil. Lagi lagi masalah internal dari kaum muslim sendiri. Dan keadaan ini dimanfaatkan oleh Raja Ferdinand, ia mendukung pemberontakan Boabdil, dengan mengerahkan pasukannya untuk membantu Boabdil. Perhatikan, si anak bekerja sama dengan seorang non-muslim, untuk melawan keluarganya sendiri.

Saat Sultan Muhammad (Boabdil) berhasil menjadi penguasa baru, tak lama dari itu ia dikirimi surat oleh Raja Ferdinand untuk menyerahkan Granada. Pada akhirnya Sultan Muhammad sadar bahwa selama ini ia hanya dimanfaatkan oleh Raja Ferdinand untuk melemahkan dan mempermudah jalan pasukan Kristen menaklukkan Kota Granada. Akhirnya, pada tahun 1491, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella mengerahkan puluhan ribu pasukan untuk melancarkan serangan umum ke jantung kekuasaan Kerajaan Granada, Istana Al-Hambra. Beberapa laporan sejarah, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella telah meminta Sultan Muhammad untuk menyerahkan Granada tanpa syarat, namun ditolak mentah-mentah olehnya. Setelah Granada dikepung selama 8 bulan, akhirnya Sultan Muhammad (Boabdil) menyatakan menyerah dan membuat perjanjian berisi bahwa selambat-lambatnya dua bulan setelah perjanjian tersebut ditanda tangani, Sultan Muhammad (Boabdil) dan keluara meninggalkan Kota Granada.

Perlu diketahui, Andalusia adalah negeri yang indah nan menawan. Selama hampir 800 tahun berada di bawah kekuasaan Islam, dimulai dari 92 H / 711 M—ketika Panglima Thariq bin Yazid berhasil menaklukkannya—hingga 2 Rabiul Awwal 897 H, yang bertepatan dengan dengan 2 Januari 1429 M.

Sahabat, di sini dapat kita jadikan sebuah pelajaran, bahwa perpecahan umat muslim adalah yang dijadikan senjata oleh musuh-musuh Islam. Ketika rasa percaya terhadap sesama muslim tidak lagi utuh, bahkan tidak ada rasa percaya sama sekali, maka muslim akan mencari teman kerjasama di luar muslim. Justru ini semakin memperkeruh keadaan umat muslim. Fitnah akan merajalela.

Perumpamaan sederhana yang sering digunakan, namun di keadaan seperti ini amatlah berpengaruh: Sapu lidi, jika hanya satu lidi yang digunakan untuk menyapu halaman, patahlah ia. Tapi Sapu lidi, jika ratusan lidi yang diikat menjadi satu kumpulan lidi, lalu digunakan untuk menyapu halaman, maka tersapulah daun daun kering di halaman itu.

Terlihatlah di sini, sebagai kaum muslim, menyatu amatlah sangat dibutuhkan dan sangat berpengaruh pada keadaan kita sekarang.

Sebagai generasi muslim selanjutnya, ada baiknya kita memiliki akhlak yang baik dan saling mengikat bagaikan sebuah bangunan. Bukankah dikatakan oleh Rasulullah Saw. riwayat Syaikhan melalui Abu Musa Ra. dalam Kitab Syarah Mukhtaarul Ahaadis:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, sebagian darinya saling memperkuat sebagian yang lain.

Maka dari itu sahabat, wajibnya kita saling menguatkan dan mendukung. Saling meluruskan jika ada yang menyimpang. Saling bekerja sama dan menghindari perpecahan dengan memaklumi perbedaan. Saling bekerjasama antar umat muslim tidak hanya ruang lingkup yang besar saja sahabat, tapi juga mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu dalam mengalahkan egois, lalu mulai ke lingkungan keluarga, organisasi, hingga masyarakat dan negara. Perbedaan yang ada adalah sebuah sunnatullah yang indah. Maka, nikmatilah!

Kalian tahu mengapa kini Umat Islam kalah? Karena mereka tidak mau menengok sejarah mereka, tidak pandai merencanakan sesuatu, dan malas.”—Moshe Dayan, Former Defense Minister of Zionist

Wallahu 'alam bisshowwab

Ailsa Digna Anjani

Komentar

  1. Untuk saat ini khlifa islam memang tidak berkuasa, kamuu kafir menguasai dunia iyalah Eropa dan Amerika, Akan tetapi jika Kerjaan Islam bersatu dan mentauhid Kan Allah, "jika semua muslim semua nya bersatu dan bertauhid serta bertaqwah yakin kejayaan islam akan muncul lagi iya kan mbak Ailsa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaa Allah Islam akan berjaya dengan baik. Dengan syarat harus mencheck-list, syarat syarat apa saja untuk berjaya, tidak hanya bertaqwa, tapi juga adanya himmah yang tinggi untuk mengenal Islam itu sendiri 😊😊. Bahkan, tidak dengan sistem khilafah pun, ketika list syarat menjadi islam yang berjaya sudah terpenuhi, maka Islam akan tetap jaya 😊

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lintasan Pikiran, Tekun Berpikir, Rajin Belajar dan Sadar akan Pengamalan Ilmu

“ Dari zaman nabi Musa as. setiap manusia akan masuk 70 ribu lintasan berupa kata ,  pikiran dan lain lain .” –Ustadzah Firza Elis- Assalamu’alaikum wa rahmatullahi ta’ala wa barakaatuh. Bismillahirrahmaanirrahim Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad Beberapa pekan ini, saya sering sekali memikirkan kalimat tersebut dan berusaha memahaminya. Asyik juga mendalami suatu hal sederhana hingga terbentuklah pohon tinggi menjulang dan banyak cabangnya. Tapi, ah... tidak sebanyak itu pikiran yang saya hasilkan. Teman-teman, seberapa sering kalian memikirkan hal-hal begitu dalam, hingga bisa berbicara sendiri, seperti saya. Ehe. Maksud saya, memikirkan hal-hal sederhana untuk menjadikannya hal istimewa, di mana dia menjadi istimewa karena kita dapat mengambil hikmah dari hal yang sangat sederhana tersebut. Seperti judul tulisan saya kali ini, Lintasan Pikiran, Tekun Berpikir, Rajin Belajar dan Sadar akan Pengamalan Ilmu , ada uneg-uneg piki...

Growth Mindset: Pengalaman Buruk di Masa Lalu sebagai Pupuk Penyubur di Masa Sekarang dan Masa Depan!

Bismillahirrahmanirrahim Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad. Assalamu’alaikum teman teman :D! Zudah lama rasanya saya tidak cerewet di laman blog heuheuheu --- Hidup ga selalu indah! Iya bener, hidup itu hampir setiap detik meliputi hal yang kita sukai atau hal yang tidak kita sukai. Setelah mendapatkan hal yang kita sukai, kemungkinan setelahnya kita mendapati hal yang tidak kita sukai. Atau sebaliknya, setelah mendapatkan hal yang tidak kita sukai, kemungkinan kita mendapatkan hal yang kita sukai. Dua-duanya membuat setiap detik hidup terasa lebih lama atau singkat. Seolah Allah lebih suka kita menderita dibanding kita tersenyum bahagia di dunia. Tapi, apa sih yang mau kita pertahankan di dunia, senyuman itu sementara, begitu juga kesedihan. Allah menciptakan semua makhlukNya bersifat come and go . Bukan untuk bertahan, menetap, apalagi kekal. Impossible . Keduanya sebenarnya menjadi sama sifatnya, menjadi sama rasanya, ketika kita ...

Hagia Sophia, Kebijaksanaan Suci yang Dijaga

Beliau turun dari kuda tunggangannya, lalu bersujud menghadap kiblat. Beliau juga menaburkan tanah ke atas kepalanya. Itulah perlambang kerendahan hati seorang hamba atas Kemahakuasaan Allah Ta'ala.  —  Dalam buku Hagia Sophia: A History Assalamualaikum temen temen! Sudah dua bulan saya tidak nulis. Ada banyak kegiatan, sebenarnya satu, tapi untuk menyelesaikannya perlu beberapa kegiatan. Hari ini kita bahas Hagia Sophia sedikit yuk! Selamat membaca 😉😉😉 Siapa yang tidak tahu Hagia Sophia? Kebijaksanaan Suci yang pada tanggal 24 Juli lalu telah disahkan oleh Presiden Turki—Reccep Tayyip Erdogan—sebagai masjid, kembali. Yup! Bangunan peninggalan budaya Romawi Timur yang juga sekaligus menjadi ikon dari kebudayaan Romawi Timur (Byzantium) tersebut, memang sudah mengalami beberapa kali perubahan status, kalau saya tidak salah ada empat kali perubahan, yakni: Gereja➡️masjid➡️museum➡️dan akhirnya masjid lagi hingga hari ini. Mengapa begitu banyak terjadi perubahan? Te...