Langsung ke konten utama

Postingan

Lintasan Pikiran, Tekun Berpikir, Rajin Belajar dan Sadar akan Pengamalan Ilmu

“ Dari zaman nabi Musa as. setiap manusia akan masuk 70 ribu lintasan berupa kata ,  pikiran dan lain lain .” –Ustadzah Firza Elis- Assalamu’alaikum wa rahmatullahi ta’ala wa barakaatuh. Bismillahirrahmaanirrahim Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad Beberapa pekan ini, saya sering sekali memikirkan kalimat tersebut dan berusaha memahaminya. Asyik juga mendalami suatu hal sederhana hingga terbentuklah pohon tinggi menjulang dan banyak cabangnya. Tapi, ah... tidak sebanyak itu pikiran yang saya hasilkan. Teman-teman, seberapa sering kalian memikirkan hal-hal begitu dalam, hingga bisa berbicara sendiri, seperti saya. Ehe. Maksud saya, memikirkan hal-hal sederhana untuk menjadikannya hal istimewa, di mana dia menjadi istimewa karena kita dapat mengambil hikmah dari hal yang sangat sederhana tersebut. Seperti judul tulisan saya kali ini, Lintasan Pikiran, Tekun Berpikir, Rajin Belajar dan Sadar akan Pengamalan Ilmu , ada uneg-uneg piki...

Alegori Cinta Allah

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi ta’ala wa barakaatuh Beberapa cinta mungkin terulang, maksudku... aku mungkin bisa jatuh cinta lagi, walaupun diawali dengan ‘ayo kita coba’. Iya, aku pikir aku pelan pelan berani untuk membuka hati dan perlahan mempersilahkan seseorang untuk masuk. Cintaku mungkin cinta yang disengaja, tapi aku bukan tipe orang yang tidak tulus, aku tidak perlu menjelaskannya. Cinta disengaja yang aku pikir karena sudah kulihat beberapa kebaikan yang aku ketahui. Sayangnya, aku lupa Allah Mahatahu, sayangnya aku lupa keberadaan Allah, sementara. Mungkin itu yang sering kurasakan, Tuhan terkadang ‘menghilang’. Bukan, Allah bukan menghilang, memang dasar aku saja yang lalai hingga membuat hijab dengan Allah. Mana mungkin yang kekal hilang, itu mustahil! Jatuh cinta terkadang menjadi hal yang membuat kita memilih untuk berhenti alergi akan kepercayaan dan kesetiaan. Namun, pada sisi lainnya, jatuh cinta menjadi alasan seseorang untuk berhenti mencintai orang lain. Menaf...

Pelecehan Seksual, Salah Siapa?

Bismillahirrahmaanirraahim Allahumma sholli'alaa sayyidinaa Muhammad wa'alaa aali sayyidina Muhammad Sejujurnya saya bukan orang yang suka main salah-salahan. Dan metode salah-salahan bagi saya bukanlah menjadi salah satu metode yang saya pilih untuk penyelesaian masalah. Tapi agaknya masyarakat sekarang lebih banyak memilih metode salah-salahan dibanding instropeksi diri atas kejadian yang menimpa mereka. Bukan, saya di sini bukannya tidak menghargai mental para korban kekerasan atau pelecehan seksual yang kasusnya mungkin 90 persen atau lebih korbannya adalah perempuan. Baik perempuan itu masih di bawah umur, remaja, remaja akhir, dewasa, atau bahkan seorang wanita yang telah menikah. Tapi, di sini saya hendak mengajak kawan kawan berpikir lebih jernih dan melihat secara luas, seluas-luasnya, walaupun mungkin tulisan saya tidak seluas itu. Saya tidak akan membahas kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak, tapi di sini saya hendak mengangkat kejadian nyata kasus pelecehan se...

SINKRONISASI NIAT DAN PILIHAN TINDAKAN

Gambar: pinterest Saya sering mendengar atau mungkin saya sendiri pelakunya, yang mengutarakan sebuah argumen, bagi saya lebih ke arah pembelaan, tidak tahu itu nafsu atau memang perkataan yang didasar dasarkan agar berpihak pada saya atau diri yang melakukannya. "Yang penting niatnya..." Tulisan ini saya tulis karena tiba tiba teringat akan pertanyaan teman seperkuliahan saya saat dulu ada presentasi di kelas, saya lupa mengenai siapa yang mempresentasikan materi pada saat itu. Pertanyaannya seperti ini kira kira, "Bagaimana menurut Anda tentang seseorang yang berkata 'yang penting niatnya?'." Dan karena teringat pertanyaan itu, teringat pula ucapan guru saya yang baru saya kenal kira kira selama kurang lebih satu bulan ini. Semoga beliau menganggap saya muridnya. "Orang yang Siddiq (benar) itu tidak suka cacian dari orang karena itu (mencaci) adalah (bentuk) maksiat kepada Allah." Awalnya, saya mengira bahwa orang siddiq itu merasa se...

Ayah Karismatik

Kiai Nawawi Dencik Alhafiz. Beliau adalah salah satu ulama karismatik di Palembang, Indonesia, bahkan hingga diketahui beberapa negara di luar sana. Kiai telah berpulang dengan tenang dan meninggalkan ribuan orang yang mencintainya, pada hari Ahad 27 Juni 2021. Penghafal Alquran, Imam Besar Masjid Agung Palembang yang keputusannya tidak dapat diganggu gugat, nasihatnya tidak dapat dielak. Kiai adalah sosok sederhana nan tawadu, yang menyukai keset dan kucing. Mencuci keset sendiri hingga menjemurnya sendiri. Beberapa kali kaki hina saya menginjakkan diri di sekitar halaman rumah Kiai, sebagai pencinta kucing saya pun suka menyapa kucing-kucing Kiai yang dikurung di dalam kandang. Ah.. betapa bahagianya mereka diasuh oleh seseorang seperti Kiai. Kiai Nawawi adalah pemimpin Yayasan Pondok Pesantren Putri Al Lathifiyyah Palembang dan Pondok Pesantren Ahlul Quran Palembang. Fasih lidahnya setiap kali melantunkan ayat suci Alquran, atau setiap kali berucap. Wajahnya tidak pernah lepas dari ...

ILMU 26 DESEMBER 2020

RINGKASAN MAJELIS AT THOHIRIN 🧕 Al Ustadzah Firza Elis 📍 Masjid At Thohirin 👥 Majelis Khusus Akhwat 📆 Sabtu, 26 Desember 2020 1️⃣ TASAWUF ▶️ Imam Ghazali berkata, hati terbagi menjadi tiga: 👉 1. Sehat ➡️ Hati yang penuh dengan keselamatan. ➡️ Ciri-cirinya: • Tidak menyimpan benci dan dendam terhadap siapa pun, walaupun dia dizolimi • Imannya kuat • Tidak serakah • Kalau ada nasehat, melihat ulama, mendengar/membaca Al Quran hatinya bergetar (air mata mudah menetes) • Banyak berzikir (ucapan/perbuatan yang diniatkan untuk Allah disebut zikir) • Hatinya penuh berkah/kebaikan-kebaikan 👉 2. Sakit ➡️ Masih ada iman di hatinya dan masih mau beribadah. Masih terdapat dosa dan maksiat. ➡️ Ciri-cirinya: • Hatinya gelisah • Jauh dari ketenangan • Mudah marah (terhadap hal besar/pun kecil) • Tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki • Susah untuk menghargai orang lain. 👉 3. Mati ➡️ Hatinya keras, karena penuh dengan maksiat. ➡️ Cirinya: • Nasihat dan ilmu tidak ada pengaruh terhadap dir...

Hagia Sophia, Kebijaksanaan Suci yang Dijaga

Beliau turun dari kuda tunggangannya, lalu bersujud menghadap kiblat. Beliau juga menaburkan tanah ke atas kepalanya. Itulah perlambang kerendahan hati seorang hamba atas Kemahakuasaan Allah Ta'ala.  —  Dalam buku Hagia Sophia: A History Assalamualaikum temen temen! Sudah dua bulan saya tidak nulis. Ada banyak kegiatan, sebenarnya satu, tapi untuk menyelesaikannya perlu beberapa kegiatan. Hari ini kita bahas Hagia Sophia sedikit yuk! Selamat membaca 😉😉😉 Siapa yang tidak tahu Hagia Sophia? Kebijaksanaan Suci yang pada tanggal 24 Juli lalu telah disahkan oleh Presiden Turki—Reccep Tayyip Erdogan—sebagai masjid, kembali. Yup! Bangunan peninggalan budaya Romawi Timur yang juga sekaligus menjadi ikon dari kebudayaan Romawi Timur (Byzantium) tersebut, memang sudah mengalami beberapa kali perubahan status, kalau saya tidak salah ada empat kali perubahan, yakni: Gereja➡️masjid➡️museum➡️dan akhirnya masjid lagi hingga hari ini. Mengapa begitu banyak terjadi perubahan? Te...